Gunung Ijen - EKSPEDISI WAPALHI 40 PUNCAK

EKSPEDISI WAPALHI 40 PUNCAK

KAWAH IJEN

19 Februari 2023

Emilda Kusumadewi – Wana Paksi ‘91

Dennilia Nugraheni – Gharbadri ‘92

Dari awal rencana, mbak Emil ngajakin untuk ikut ambil bagian dalam rangkaian menggapai 40 puncak dalam menyambut ulang tahun WAPALHI ke 40. Mba Emil ngajakin ke Ijen, menyelaraskan waktu liburan bersama keluarga besarnya di Banyuwangi. Aku sih ayuk aja, emak satu ini kalo dijak dolan, paling semrinthil, selama ada exit permit dari masjo.

Kawah Ijen.

Bagiku mengunjungi Kawah Ijen serasa déjà vu, karena di tahun 2004, pas aku masih wangi kembang manten, aku dolan ke sini bareng mas Atenk dan mas Tatuk, namun sial, saat itu kami hanya bisa sampe di pos Paltuding, dan pendakian ditutup total karena ada erupsi beruntun kala itu. Kemudian tahun 2019 sebelum pandemi, gagal pergi ke Kawah Ijen gegara jadwal yang mundur dan exit permitku udah kadaluwarsa. Jadi kesempatan kali ini tidak kusia-siakan. 2 minggu sebelum keberangkatan udah tanya-tanya soal bendera Ekspedisi WAPALHI 40 Puncak, hingga akhirnya Rabu malam, aku kelimpungan mencari koneksi untuk dapat mencetak bendera yang bisa selesai di hari Kamis siang. Alhamdulillah atas bantuan temen kantor, Kamis siang, bendera datang bersamaan dengan bendera dari mas Edy Sekar Sakura. Jadi ada 2 bendera nih di aku skarang gees, hahaha.

Selama seminggu sebelum hari H, aku memantau dan berkontak langsung dengan salah satu akun IG yang berlokasi di Paltuding. Tiap hari monitor cuaca, yang dikabarkan hujan masih rajin menyapa pegunungan Ijen dan sekitarnya. Dan sungguh sial bagiku, diinfokan bahwa Blue Fire yang kuidam-idamkan, sejak pertengahan Januari tidak dibuka untuk umum, karena tekanan gas belerang sangat tinggi dan bisa memicu erupsi. Kenapa harus Blue Fire sih? Inget banget celoteh anak lanangku semata wayang Ketika kecil dulu. “Bukannya sama tu ma api kompor gas mami?” Hahaha. Fenomena Blue Fire ini emang the actor nya kawah Ijen. Magnet utama pesona Kawah Ijen, dan merupakan satu dari 2 fenomena alam blue fire di dunia! Elok tenan raa..

Kamis sore, aku meluncur ke Ngawi, menuju kosan masjo, karena aku wajib pamitan langsung dan kebetulan titik ketemuan yang disepakati adalah Gerbang Tol Ngawi. Pukul 00.30, kami ketemuan di RM Duta 3, sebrang GT Ngawi, aku bergabung dengan mba Emil dan kami melaju membelah malam sepanjang pantura. Memupuk harapan agar bisa melihat keajaiban alam, Blue Fire. Biidzillah, alam merespon doa-doa yang dilangitkan.

Pagi pukul 09.30, kami memasuki kota Gajah Oling, merapat ke hotel dan berpapasan dengan mobil kakanya mba Emil. Ternyata, qodarullah, ibunda mba Emil gerah dan segera dilarikan ke RSUD Blambangan dan harus rawat inap. Menjelang ashar mba Emil Kembali ke hotel, dan agenda hari kami batalkan.

Sabtu tengah malam, pukul 00.00 WIB, mobil Hi-Ace yang akan mengantar kami ke Paltuding sudah nongkrong di parkiran hotel. Kami serombongan, mba Emil sekeluarga serta kerabat, dan aku, total bersembilan. Perjalanan dari hotel di Ketapang menuju Paltuding menempuh waktu 1.5 jam, dengan jalan yang ga mulus, seolah merontokkan tulang-tulangku. Gerimis masih setia mengiringi perjalanan kami. Pukul 02.30, kami sampai di Paltuding, dan diinfokan bahwa pendakian baru akan dibuka pukul 04.00 WIB, karena status kawah yang ditutup untuk umum. Jadi kami ada waktu untuk Kembali tidur dalam buaian rintik hujan dan dingin AC mobil.

Pukul 03.30 WIB, kami dibangunkan dan berkumpul di sebuah warung untuk mengecek tiket yang telah dibeli secara online serta mendapat arahan dari pengelola Kawasan Geopark Ijen. Ada anjuran untuk menggunakan jasa guide/pendamping meskipun tidak wajib. Akhirnya dengan mempertimbangkan hanya kami berempat, mba Emil sekeluarga dan aku yang udah lumayan sering naik gunung, sisanya baru kali ini akan naik gunung, maka kami menyewa jasa guide sebesar 250rb. Dini hari itu, pos Paltuding penuh sesak dengan pengunjung, ya maklum weekend dan Sabtu 18 Februari itu adalah tanggal merah. Di depan gerbang pendakian, pak Yusup, guide kami memberikan briefing singkat. Jarak dari pos Paltuding hingga ke bibir kawah sejauh sekitar 4 kilometer, dengan 7 pos. Pos 1,2, dan 3 berada dalam jarak yang berdekatan sepanjang 800 meter dan jalan masih datar. Nanti setelah pos 3, jalan akan nanjak non-stop hingga pos 6 sejauh sekitar 2.5 kilometer dan akan Kembali landari menuju pos7. Untuk melihat Blue Fire kita harus turun ke dasar kawah sejauh 900 meter dengan kemiringan terjal 45 derajat medan berbatu yang mudah longsor, serta hanya ada 1 jalur, untuk naik dan turun. Namun kali ini kita tidak bisa turun ke kawah. Jika capek dan merasa tidak kuat,, jangan dipaksakan, ojek troli (gerobak dorong), selalu sedia untuk mengantarkan hingga ke bibir kawah maupun saat Kembali turun nanti. Kalimat terakhir penuh dengan pesan sponsor imbauan agar melarisi jasa ojek.

Pukul 04.00 tet, gerbang pendakian dibuka, pengunjung berduyun-duyun melangkah pelan dalam gelap. Jalur pendakian cukup lumayan lebar sekitar 2-3 meter, tanah padat dengan topping pasir vulkanik. Pagi itu tanah agak basah karena diguyur hujan deras sebelumnya. Di sepanjang jalur dari gerbang pendakian hingga pos 2, banyak berjajar troli yang siap mengangkut penumpang. Kami tidak bisa mempercepat Langkah, karena harus bergantian dengan para penambang dan ojek troli. Penuh sesak! Lampu senter menyala di kegelapan, membuat suasana makin uyel-uyelan macam konser Dewa 19, hehe.

Dari pos 1 hingga pos 3, masing-masing berjarak hanya sekitar 200-300 meter saja. Pos 3 menuju pos 4 lumayan jauh, dan jalan relative lebih nanjak meskipun jalan tetap lebar dan mulus tanpa tanpa hiasan undak-undakan ataupun batu. Gunung Meranti (Ranti/Rante), udah menampakkan silhouette nya. Pos 4 menuju pos 5, masih nanjak dan tetap uyel-uyelan, karena ada sebagian pendaki yang mulai kepayahan dan bergerombol di tengah jalan, termasuk aku, hahaha. Langit mulai terlihat sedikit terang, meskipun gelap masih dominan, namun senter udah bisa dimatikan. Menuju pos 6, pendar matahari mulai pecah merobek langit. Perlahan senter raksasa ini menyajikan lansekap pegunungan Ijen yang lengkap. Gunung Meranti, Kawah Wurung, Gunung Suket, dan Gunung Raung mengintip dikit dibalik gunung Meranti. Di balik jalur pendakian, tersaji punggungan Gunung Merapi Ijen. Rasanya sungguh ingin berlama-lama berada di sini. Menatap lukisan alam Sang Maha Pencipta. MasyaAllah…

Di pos 6 terdapat bangunan berbentuk silinder yang dikenal dengan Pos Bunder. Namun saat ini jalur pendakian dialikan melalui belakang pos, Dan pos 6 yang baru berada di sebelah kanan, dengan tanah yang lebih lapang dan luas. Makanya pas perjalanan turun sempet nyari-nyari mana Pos Bunder, ternyata emang ga dilewati. Perjalanan dari pos 6 menuju pos 7, ada satu tanjakan zigzag berpagar beton, selebihnya, jalur landai menyisir punggungan bukit sejauh sekitar 1 kilometeran. Langit makin terang, mataku terpuaskan dengan bentang alam gunung Merapi Ijen yang berbukit-bukit dan berlarik-larik seperti sisik naga. Menjelang tikungan terakhir menuju pos 7, terpampanglah lansekap bibir kawah, dan orang-orang berkerumun serupa manik-manik yang berterbaran warna-warni.

Pukul 06.30, kami mencapai Pos 7, yang berada di bibir kawah. Total perjalanan kami 2.5 jam dari pos pendakian hingga ke bibir kawah. Untuk mendapatkan sunrise spot yang keren kita masih harus berjalan menyisir bibir kawah sekitar 700 meter, menanjak landai dengan kemiringan 15-20 derajat, menuju puncak Kawah yang viral dengan pohon Cantigi matinya. Namun kami yang tercerai-berai memilih istirahat di pos 7 sembari menunggu personal lengkap.

Begitu sampai di bibir kawah yang dipagari dengan beton, terhampar pemandangan mangkuk raksasa berisi tinta biru turquoise, dengan bibir tebing abu-abu bergradasi coklat. MasyaAllah, takjub! Seketika aku didera déjà vu akan pesona danau Kelimutu, Flores. Moment-moment itu berjejalan di kepalaku, rasa-rasa itu membuncah lagi (soalnya aku lagi nulis tentang perjalanan Flores, 20 tahun silam). Asap belerang mengepul dari dasar kawah, berwarna putih pekat, bergerombol seperti cendawan, dan saat semakin ke atas, dipermainkan angin, menguar mengisi udara pagi itu. Perih di mata dan jika terhirup, hidung terasa pengar hingga tenggorokan serasa dicekoki sesuatu, membuat tercekat dan batuk-batuk hingga mual. Kami beristirahat sambil menunggu rombongan kumplit, sembari menanti asap belerang memudar. Popmi dan telur rebus serta teh hangat, cukup untuk menghalau lapar karena ga sempat sarapan.

Satu jam kami istirahat dan mulai mendaki lagi menuju pohon cantigi. Jalur landai sedikit menanjak dan terhampar luas dengan tanah padat berwarna kecoklatan. Mangkuk raksasa di bawah kami makin terlihat memukau. Puncak Raung dan gunung entah apa namanya, menyembul di balik kawah. Kalo ga inget memory hape, bakalan terus-terusan ambil foto lansekap yang sangat mengagumkan. Tujuan pohon cantigi mati yang sangat viral dan jadi ikon di Instagram, kami alihkan, karena harus ngantri, bergantian dengan para pendaki lainnya. Males pake banget. Akhirnya kami memutuskan untuk take video dan foto untuk dokumentasi Ekspedisi 40 Puncak di situ aja, toh spot fotonya hampir sama.

Pukul 10.00 kami memutuskan untuk turun agar tidak kesiangan sampai hotel. Beberapa kerabat mbak Emil turun menggunakan jasa troli dengan mahar 300 ribu per orang per troli. Sedangkan aku, mba Emil, Cleva dan mas Eko, memilih jalan kaki santai. Aku dan mba Emil berjalan beriringan sambil cerita ini itu, Langkah kami santai namun tanpa henti. Sampai di gerbang pendakian pukul 10.40 WIB. Naik 2.5 jam, turun 40 menit. Alhamdulillah cuaca cerah dari berangkat hingga pulang.

Satu puncak kami persembahkan untuk WAPALHI tercinta .

Sekilas tentang ojek troli:

Ojek troli Kawah Ijen ini pada awalnya dipergunakan untuk mengangkut hasil tambang belerang dari bibir kawah menuju pos Paltuding. Dulu, para penambang belerang hanya bisa memikul 2 keranjang bermuatan belerang maksimal 60 kilogram. Jadi untuk mengejar setoran yang banyak, para penambang harus naik-turun kawah dan pulang pergi ke Paltuding sebanyak 5 hingga 6 kali dalam sehari. Sedangkan jika menggunakan troli, bisa mengangkut belerang hingga maksimal 3 kwintal atau 300 kg! Namun akhirnya troli sebagian beralih fungsi sebagai ojek bagi para pengunjung yang ingin menikmati pemandangan spektakuler tanpa harus capek dan lelah. Info tarif ojek pergi-pulang adalah 800 ribu per orang per troli. Mahal? Tentu saja. Karena untuk menarik troli dengan beban orang dewasa dengan BB rerata 60 kg di jalan yang nanjak tiada akhir, diperlukan 3 orang. 2 orang untuk menarik dan seorang lagi bertugas mendorong troli. Untuk naik saja, dikenakan tarif 600 ribu sedangkan untuk turun tarif mulai dari 300 ribu. Khusus untuk turun, terkadang para ojekers banting harga, dari 300 ribu hingga 100 ribu bahkan 50 ribu, terutama jika seharian tak dapat penumpang. Biasanya mereka akan mengikuti kemana kita melangkah, tak Lelah menawarkan, namun tidak memaksa. Para ojekers ini adalah mantan para penambang belerang yang telah belasan bahkan puluhan tahun bekerja memikul belerang. Uang yang dihasilkan dari jasa ojek dirasa lebih menguntungkan dibandingkan dengan menambang belerang.

Dari ketinggian 1769 mdpl, Puncak Kawah Ijen, kami mengucapkan :

“Dirgahayu WAPALHI ke 40, semoga WAPALHIku selalu Jaya!!”

Ditulis oleh Dennilia W 92.199 GB

0 Comments